The Past to Remember
“Hey watch your step, man” aku menegur seorang businessman yang hampir saja menabrakku saat aku sedang mencari nomor tempat duduk di dalam pesawat
“Udahlah Aya, let’s we find our seat ” Ginny mengalihkanku.
Ginny, teman baikku sejak semester satu. Gadis ini memang bahasa Indonesianya acakadut,
tidak heran karena bapaknya merupakan kebangsaan Inggris yang menikah
dengan ibunya yang berkebangsaan Indonesia, istilahnya anak blasteran.
Dia juga yang menyatukan aku, Grant, Bill dan Sean dalam satu team
untuk mengikuti lomba internasional ‘Analisis Laporan Keuangan Untuk
Lima Saham Terbesar di Dunia’ yang diselenggarakan oleh New York Stock
Exchange. Ya, ini lomba yang terhitung sangat bergengsi dan
didamba-dambakan anak jurusan akutansi dan manajemen. Jika Ginny tidak
menyatukanku dalam lomba pasti sekarang aku sedang duduk diatas sofa
sambil menonton TV show kesukaanku.
Akhirnya kami menemukan nomor tempat duduk kami, kebetulan
dekat dengan jendela. Pandanganku tak berarah yang berujung pada
lamunan. Eja.. gumamku. Sambil mengingat sedikit demi sedikit ingatan
tentang nama yang ada dalam lamunanku.
“Whats wrong with you, Aya? Kenapa kamu melamun?” suara Ginny memecah lamunanku.
“Umm.. Nothing. Aku baik-baik saja, Gin”.
“Ayolah, I know you hide something from me. Ceritakan saja padaku apa yang menbuatmu melamun” tawaran Ginny tidak mampu membuatku mengelak. Tentu saja dia seorang good listener.
“Baiklah... its all about my ex Gin. His name is Fareza, but I called him Eja. Eja isn’t good boy,
dia sering membolos untuk pergi ke kantin bersama gerombolan basketnya
itu. Ya walaupun kegiatannya itu tidak membuatnya tinggal kelas tapi
tetap saja dia tercover bandel karena membolos. Eja suka memberiku kejutan, he have a thousand way to make me happy. Aku menjalin hubungan lumayan lama, it had taken two years. And it was over… saat aku harus pindah ke Amerika tepatnya saat aku akan naik kelas dua SMA”.
“Two years, long enough isn’t? Lalu kenapa harus berakhir?” tanyanya penasaran.“Long Distance” jawabku singkat.“Hanya karena jarak? Hey it just a distance right” sepertinya Ginny nampak tak yakin bahwa jaraklah yang menjadi pemisah.
“Nggak semudah yang kamu bayangkan Gin. Jarak itu sepele
tapi ketika menjadi masalah akan rumit. Apalagi Eja tipe pria yang cuek,
apa kabar hubunganku nanti kalau jarak jauh? Maybe it’s the best way”.
“Hmm..begitu ya.. Pasti kalian akan mendapatkan kebahagiaan masing-masing, believe me” Ginny megatakannya sambil tersenyum. Kami tersenyum kemudian mengganti topic pembicaran. Pesawat mulai berjalan, rodanya mulai terangkat dan inilah awal perjalananku menuju New York
Welcome NY ! Di Hotel Hilton Garden Inn West 35th Street
ini tempat dimana aku tinggal untuk sementara waktu saat mengikuti
lomba di New York. Semoga aku akan nyaman dengan tempat ini karena lomba
akan memakan waktu satu setengah bulan, bukan waktu yang singkat saat
berada di ruang asing.
Sudah seperti tradisi, sebelum lomba selalu di adakan gala
dinner, mungkin tujuannya agar kita mengenal satu sama lain. Karena moment ini yang mempertemukan delegasi mahasiswa dari berbagai negara.
“ Look at that! There are Singapore.. Japanese.. Korean..
Chinese.. So many Asians in here.” Sean terlihat sedang memperhatikan
beberapa delegasi dari Asia.
“Is there any Indonesian too?” Ginny bertanya.
“Why are you so curious, Ginny?” jawaban Sean sambil meledeknya.
“This my business, Sean. I will be right back, after looking for Indonesian. Cya..” Ginny berjalan meninggalkan kami. Kami tertawa kecil saat melihat tingkahnya.
Sambil menunggu Ginny kami berkenalan dengan delegasi dari
negara lain. Tak lama setelah itu Ginny datang dengan wajah girang.
Sepertinya dia mendapatkan apa yang dia cari.
“Hey guys I found Indonesian! They are so cute. Come on, you have to seen it!” Ginny mengajak kami untuk menemui mahasiswa delegasi dari Indonesia.
“But Ginny its too night..” sahut Bill.
“Yeaa time to bed..” Grant dan Sean menambahkan.
“We need a rest, Gin. Apalagi besok kita juga harus memperkenalkan team kita pada team
lain secara resmi.” Aku coba mencegah Ginny, tetapi itu sama sekali
tidak mampu menahan kemauannya untuk memperkenalkan kita dengan
orang-orang Indonesia itu.
“Oh come on, they are waiting for us” rayunya sambil mengulum bibir.
“Aaaah ayolah Aya, masa kamu nggak pingin ketemu sesama orang
Indonesia sih?” Ginny memaksa sambil menyeretku berjalan cepat menuju
gerombolan orang-orang Indonesia. Sepertinya dia sangat puas saat
berhasil menyeretku untuk ikut dengannya.
“Hey Indonesian !” Ginny menyapa gerombolan Indonesia itu.
Dia menarikku untuk berdiri disampingnya. Saat itu aku tidak
langsung melihat kearah gerombolan itu karena aku masih sibuk merapikan
rambutku yang agak berantakan karena Ginny menyeretku dengan tiba-tiba
tadi. Tak lama setelah itu aku mengalihkan pandanganku pada gerombolan
Indonesia. Dan… Mustahil..tiba-tiba kata-kata itu terlontar pelan dari
bibirku.
Ginny memperkenalkan masing-masing dari kami. Aku masih stuck
pada pandanganku yang tertuju pada salah satu anggota gerombolan dari
Indonesia itu. Grant, Sean dan Bill turut menyapa dan bersalaman dengan
orang-orang Indonesia yang tepat berhadap-hadapan dengan kami. Aku masih
terdiam dengan pandangan terkejut menatap seseorang yang tak asing lagi
bagiku. Aku masih merasa tidak mungkin dengan apa yang aku lihat.
Eja.. Ya, Eja merupakan salah satu delegasi dari Indonesia,
tidak mungkin, hatiku masih saja bertanya-tanya akan realita yang
terpampang nyata dihadapanku. Jelas saja, dia bukan lelaki yang terlihat
pintar, prestasinyapun tidak terlalu mencolok dalam bidang akademik.
Tapi, apa yang aku lihat ini sungguh nyata. Wajah Eja juga terlihat
sangat terkejut saat melihatku dengan dandanan yang bukan lagi khas anak
SMA.
Pandangan kami bertemu , masih terasa jelas bila kami masih
saling menyimpan rasa. Ya, tak semudah itu membuang rasa yang pernah
ada. Canggung. Jelas, karena setelah keberangkatanku ke Amerika kami tak
lagi bicara. Sepertinya Ginny mulai membaca situasi. Gerak gerik Ginny
yang menatapku dan Eja secara bergantian seperti sudah dapat meraba
bahwa antara aku dan Eja memang sudah saling kenal.
“Do you know him, Aya?” tepat, pertanyaan Ginny sudah menjurus. Sedikit demi sedikit dia mengupas rasa penasarannya.
I tell you latter” aku menjawab dengan mata penuh harapan agar Ginny tidak membahas rasa penasarannya itu ditengah keramaian ini.
“Ay..” Eja seperti hendak memulai pembicaraan.
“Unpredictable.. you are here.” Aku memotong
kata-katanya. Bukan karena tidak sopan, hanya saja aku belum siap untuk
berbicara jauh setelah sekian lama pembicaraanku dengannya lumpuh.
“Ya, aku juga nggak nyangka kalo bakal gini Ay” jawabnya
sambil menyimpulkan senyuman pada sudut bibirnya. Seyuman itu masih
sama. Tidak ada yang berubah dalam diri Eja kecuali tatanan rambutnya
yang lebih rapi dan kemeja lengan panjangnya yang terkancing lengkap
dengan ikat pinggang dan jas. Terlihat lebih dewasa, tidak lagi
ugal-ugalan. Sepertinya dia sudah bermetamorfosis. Dan aku membalas
senyumnya.
Sayang hari sudah malam dan aku harus kembali ke
penginapan. Sepanjang perjalanan Ginny tidak mampu menutupi rasa
penasarannya dia terlihat gelisah, bibirnya bergetar seperti hendak
mengatakan sesuatu namun ragu. Dan saat itu juga dia mulai bertanya,
mungkin dia sudah jenuh menahan pertanyaan yang sudah mengumpul di ujung
rongga mulutnya
“Jadi kamu sudah mengenal pria itu sebelumnya bukan?”.
“Yaa..” aku menjawab sambil tersenyum, aku tak mampu
menutupi rasa bahagiaku saat melihat sosok Eja. Meski nyatanya aku
bimbang, aku tak tau harusnya aku bahagia atau sedih melihatnya kembali.
Tapi aku merasa bahagia. Ya walau sekarang keadaan tidak lagi berpihak
pada cinta lagi. Kenyataannya aku sudah memiliki kekasih, Ryan.
“Siapa dia, Aya?” Ginny bertanya untuk menggenapi keganjalan atas rasa penasaranya itu.
“Fareza. He is Eja, Gin” aku menjawab singkat.
Sepertinya Ginny tersentak mendengar jawabanku. Tapi memang begitulah
adanya. Ginny hanya mengangguk-angguk seperti sedang menyimpulkan suatu
hasil dari beberapa pernyataan.
Adanya field trip ke Canada ini seperti menjadi
fasilitator untuk aku dan Eja. Komunikasi antara kami kembali terjalin.
Seperti saat bermain ski, melihat aurora dan membuat boneka salju
bersama. Sempurna, hingga aku ingin menghentikan waktu yang sedang
berjalan. Aku ingin abadi dengan kondisi ini. Bukan hanya aku tapi juga
Eja, tatapannya seperti berkata bahwa inilah penantianku yang telah lama
bersembunyi dibalik jarak yang begitu jauh. Seperti Adam dan Hawa saat
dipertemukan, gelora cinta itu ada dan tak mungkin dapat dipungkiri. Aku
memang masih cinta, sungguh. Tapi aku tak bisa berkata cinta karena
sesungguhnya masih ada cinta dari Ryan yang membatasi.
Saat bersama Eja mata Bill terlihat mengawasiku. Sepertinya
Bill mencurigai kedekatan kami. Atau mungkin dia sudah melaporkan
sesuatu pada Ryan akan apa yang dia kertahui tentang aku dan Eja. Bill
merupakan sahabat Ryan, mungkin niatnya baik, memberi informasi atau
semacamnya untuk sahabatnya itu. Ryan dan Bill sudah sangat dekat karena
sejak berumur dua belas tahun Ryan sudah tinggal di Amerika. Mereka
bersahabat sejak kecil, karena mereka adalah tetangga.
Ryan juga senasib denganku, karena bapak kita sama-sama
bekerja sebagai konsultan kenegaraan di Amerika. Hal itu yang
mengharuskan kita pindah ke Amerika. Hanya saja Ryan pindah lebih dulu.
Ya Ryan adalah orang Indonesia.
****
Beberapa sesi dalam perlombaan telah berjalan lancar, dan
besok merupakan sesi akhir yang berupa sesi debat. Debat kali ini aku
dikejutkan karena lawan dari teamku. Lawanku adalah team dari Indonesia. Aku harus melawan team
Indonesia. Aku harus berdebat dengan Eja? Memang kikuk. Tapi bagaimana
lagi, ini kompetisi aku harus sportif, tak peduli siapapun lawanku itu.
Debat kali ini tidak berjalan dengan baik bagi team ku, jelas karena kami kurang persiapan sehingga kami sempat melemah.
Emosi Bill terpancing ditengah perdebatan. Dia sempat
menuduhku sengaja melemah karena adanya Eja. Aku sempat syok mendengar
kata-kata Bill, karena kedekatanku dengan Eja bukan untuk bekerjasama
dalam perlombaan. Kami hanya mengakrabkan kembali hubungan kami yang
sempat merenggang beberapa saat lalu. Sedikitpun aku tak angkat bicara,
aku hanya diam dan berusaha membuktikan pada Bill bahwa aku tidak sesuai
dengan tuduhannya.
Debat berlangsung sengit. Keadaan terus memanas. Mungkin
Bill sudah terbawa emosi, ruang debat mendadak ricuh. Seisi ruangan
mengerutkan jidat, bingung akan apa yang sedang berlangsung. Mungkin
sebelumnya tidak pernah terjadi debat semacam ini. Argumen Bill hanya
dipenuhi emosi saja, sempat aku dan teamku menenangkannya
sejenak agar keadaan bisa dikondisikan lagi. Percuma kalau hanya ada
emosi, argumen apapun jadi tak bermutu. Bill menghela nafas panjang,
menenangkan pikirannya sejenak. Tenang, keadaan sudah membaik, debat
berjalan dengan lancar.
Menang! Ya, Kami berhasil memenangkannya. Bill menatapku,
sepertinya dia mulai sadar atas tuduhannya itu. Aku hanya menatapnya
sekejap dan memalingkan pandanganku pada Ginny yang terlihat sangat
senang karena kami menang. Aku dan Ginny berpelukan, tertawa lega
seperti pejuang yang berhasil memerdekakan negaranya. Memang seperti
pada sesi persentasi kami tidak menang, tapi setidaknya kami pulang
sebagai juara ke-tiga. Yang lebih berarti adalah pengalaman saat berada
di sana. Meski hanya menjadi kenangan tapi semua itu adalah kenangan
terindah selama aku di Amerika.
Besok pagi aku bersama empat temanku akan kembali ke
California. Meninggalkan New York. Dan melepas kepergian Eja untuk
kembali lagi ke Indonesia. Seperti mimpi, bila ini mimpi maka aku akan
mencari tau posisi tidurku saat aku memimpikan hal itu, agar mimpiku
bisa terulang.
****
Getty Center Restaurant, California disinilah aku dan Ryan
akan makan siang. Seperti biasa kami membeli ice cream sambil menunggu
peasanan makanan kami datang. Tatapan Ryan berbinar, terpancar rasa
sayang yang amat dalam di setiap tatapannya. Matanya menyipit, bibirnya
tertarik, dia tersenyum sambil menatapku. Aku tersipu, walau ini bukan
yang pertama kali Ryan melakukan hal seperti ini padaku.
“Hey.. Aku tidak pernah ingin kehilanganmu, bahkan itu hal
yang sangat aku takutkan. Melihat kau tersenyum saja aku sangat bahagia
apa lagi saat melihatmu bahagia? Entah mengapa hanya bahagia dan bahagia
yang aku kenal saat berada di dekatmu, aku bahkan tidak mengenal yang
lain.” Senyuman selalu menjadi pemanis di setiap perkataannnya, tapi aku
sama sekali belum memahami apa maksud perkataan Ryan. Aku hanya
membalas perkataannya dengan tatapan dan senyuman.
“Bukankah cinta yang selalu membuat kita bahagia?” sambil
menatapku dan menggenggam tanganku Ryan mengajukan pertanyaannya.
“Sure..” aku menjawab dengan tatapan penuh kepastian.
“Tetapi cintamu bukan sedang berada dihadapanmu. Tetapi di
sini…” Ryan menunjukkan peta Indonesia lewat ponselnya padaku.
“Ryan, tapi itu sudah menjadi masa lalu” aku mengambil ponselnya yang sempat menjadi penghalang pandangan kami.
“Tanpa berkata aku sudah bisa menilai hanya dengan melihat tatapanmu saat menatap fotonya yang ada dalam album ‘New York Trip’ mu itu” Ryan berkata padaku masih dengan senyuman dan intonasi yang lembut. Aku hanya terdiam dan tak berani menatapnya.
“Aku hanya ingin melihatmu bahagia, karena dengan itu aku
juga akan merasa bahagia. Ketika aku mencintai seseorang aku berjuang
agar bisa melihat orang yang aku cintai selalu bahagia. Jangan
sia-siakan perjuanganku.” Saat mengutarakan kalimat itu Ryan merunduk
dan menggenggam tanganku lebih kencang dari sebelumya. Entah mengapa aku
tertegun melihatnya. Aku tak mampu membendung air mataku, mengalir
begitu saja membuat aliran sungai kecil di pipiku.
“You are the best that I ever had, Kanaya” kata-kata ini yang menjadi penutup pembicaraanku dengannya.
Ryan masih bisa menahan kesedihannya yang mungkin
sebenarnya sedang bergejolak memacu jantungnya agar berdetak lebih cepat
dan melemahkan segala aktivitas sarafnya. Bumi seperti berhenti
berotasi saat aku mendengar kata-katanya itu. Jantungku berhenti
berdetak sejenak yang kemudian disusul dengan nafasku yang
terengah-engah seperti saat aku berlari sangat jauh.
****
Akhirnya Boston, aku melanjutkan studi lajutku di Harvard
University, impianku sejak aku berada di California terwujud juga. Di
salah satu kamar student house aku membolak-balik album ‘New York Trip’
milikku, mengingat kenangan-kenangan didalamnya. Pandanganku seperti
menahan tanganku untuk membalik halaman karena melihat sebuah gambar
dimana didalamnya termuat fotoku dan Eja. Seperti ada daya magic yang menarik bibirku kekanan dan kekiri sehingga terciptalah senyuman.
“Tok.. tok.. tok..” terdengar suara pintu kamarku yang terketuk.
“Who is that?” aku hanya ingin memastikan siapa yang sedang mengetuk pintu kamarku.
Tapi tak sedikitpun terdengar getaran pita suara manusia dari
luar pintu. Aku mulai membuka pintu kamarku. Saat aku menegakkan
kepalaku untuk melihat siapa yang mengetuk.. Astaga!
“Dulu aku pernah berkata, bahwa aku akan terus berusaha untuk
selalu berada di dekatmu. Semoga ini adalah wujud dari bukti kata-kataku
saat itu, Aya. Sekian lama aku terus menunggu dan selalu mengupayakan
agar aku bisa berangkat ke Amerika untuk menemuimu. ” kalimat ini
seperti pengganti kalimat ‘selamat datang kembali’ dari seorang pria
yang ada dihadapanku, he’s someone I used to know. Eja.
The End…
Minta testimoninya ya guys.. Saran dan kritik kalian juga boleh tuh.. Kelengkapan seorang penulis itu ada pada pembacanya. :)
Boleh COPY atau MENGUTIP tapi beri sumber ya.. :)