Insan yang Mulia
Masih melekat ingatan akan timangan itu,
kau peluk raga kecil ini layaknya memeluk nyawamu dalam wujud lain
Masih terdengar jelas akan suara itu,
saat raga ini terlelap dalam bisikan doamu
Masih terasa sentuhan itu,
saat raga kecil ini kau sapu dengan jemarimu yang penuh kasih sayang
Kau topang duka lara tiada suara
Kau redam angkara murka tiada nyata
Agar raga kecil ini selalu melihat sosok malaikatnya selalu tersenyum
Semangat meletup-letup berjuang demi ketetapan hidup buah hatinya
tak peduli sengsara, sakit dan pahit
GAGAL dirobek sudah
hanya kesuksesan yang TERTERA
Kau membuta, menuli dan membisu akan kata SIA-SIA
hanyalah kata BERHASIL terbentang sebagai pedoman
Bukan lagi wajah mulus,
namun berhias kerikil tajam, lusuh dan kotor yang ada
itu semua kau relakan demi buah hatimu
Kain perca kau sanang demi sutra untuk segumpal daging bernyawa ini
Biar harus menadah tetes pada kemarau demi melebur dahaga daging timangan ini
rela... kau rela..
wahai insan yang mulia....
Masih melekat ingatan akan timangan itu,
kau peluk raga kecil ini layaknya memeluk nyawamu dalam wujud lain
Masih terdengar jelas akan suara itu,
saat raga ini terlelap dalam bisikan doamu
Masih terasa sentuhan itu,
saat raga kecil ini kau sapu dengan jemarimu yang penuh kasih sayang
Kau topang duka lara tiada suara
Kau redam angkara murka tiada nyata
Agar raga kecil ini selalu melihat sosok malaikatnya selalu tersenyum
Semangat meletup-letup berjuang demi ketetapan hidup buah hatinya
tak peduli sengsara, sakit dan pahit
GAGAL dirobek sudah
hanya kesuksesan yang TERTERA
Kau membuta, menuli dan membisu akan kata SIA-SIA
hanyalah kata BERHASIL terbentang sebagai pedoman
Bukan lagi wajah mulus,
namun berhias kerikil tajam, lusuh dan kotor yang ada
itu semua kau relakan demi buah hatimu
Kain perca kau sanang demi sutra untuk segumpal daging bernyawa ini
Biar harus menadah tetes pada kemarau demi melebur dahaga daging timangan ini
rela... kau rela..
wahai insan yang mulia....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar